Tampilkan postingan dengan label Exterior. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Exterior. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2013

Kolam Asri dengan Tanaman Air

Kolam Asri dengan Tanaman Air

 

Kolam dapat memberikan sentuhan berbeda pada taman di rumah Anda. Air pada kolam dapat merefleksikan bayangan, memberikan efek yang menarik hati. Selain itu kolam juga dapat membuat suasana semakin sejuk, ditambah suara gemericik air yang menenangkan. Namun rasanya kolam tampak hampa tanpa penghias apapun. Mengapa tidak Anda tambahkan tanaman air? Dengan tanaman pada kolam, kolam makin cantik, dan tentunya rumah Anda semakin asri. Selain sebagai elemen penghias, tanaman air juga memiliki banyak manfaat lain.
Menurut Ibrahim, pemilik toko tanaman Bougenville di bilangan Lebak Bulus yang telah berbisnis tanaman sejak tahun 1970, tanaman air belum begitu banyak peminatnya. Namun tetap ada saja yang mencari tanaman untuk kolam di rumah. Nah, agar kolam di rumah Anda tampil beda, yuk mulai pilih-pilih tanaman air untuk kolam di rumah!

Jenis-jenis Tanaman untuk Kolam
Jika Anda ditanya mengenai jenis tanaman air apa yang Anda ketahui, Anda pasti menjawab teratai. Ya, teratai memang jenis tanaman air yang paling banyak dipakai untuk kolam. Lalu apalagi? Rupanya tidak begitu banyak tanaman air yang bisa digunakan. Menurut Ibrahim, jenis tanaman air untuk kolam memang tidak begitu banyak, tapi satu jenis memiliki warna yang bervariasi. Selain itu tanaman air juga cukup mudah didapatkan.
Perlu dicatat, tanaman air untuk kolam berbeda dengan tanaman air untuk akuarium. Tanaman air terbagi menjadi tanaman air yang hidup di dalam air dan yang hidup di atas permukaan air. Untuk kolam, tanaman air yang digunakan tentunya tanaman air yang hidup di atas permukaan air. Selain jenis-jenis yang disebutkan di bawah ini, masih ada lagi beberapa jenis tanaman air, antara lain kana air, sagita, mata panah, antanan, pentol korek, water poppy, paku ekor kuda, teki air, Cyperaceae, melati air, star grass, dan seledri air.


sumber : tabloidrumah.com
( ADISSA MAHANI )



Jumat, 17 Mei 2013

Makin Sejuk dengan Waterwall


 

Pada taman ini waterwall dibuat untuk menghiasi dinding besar yang polos. Selain menambah keindahan taman, rumah pun lebih sejuk dengan kehadiran waterwall.


Menghadirkan gemericik air di hunian Anda sebenarnya sederhana saja, namun ternyata bisa memberikan efek yang besar. Rumah yang dihiasi dengan kolam beserta air yang mengalir dari atas pastinya terasa lebih adem, bukan? Kini telah banyak kreasi eksterior bahkan interior yang menghadirkan unsur air di dalamnya, menyadari betapa besar efek air bagi hunian kita. Salah satu kreasi yang kini semakin diminati masyarakat ialah waterwall.
Anda pasti pernah atau bahkan sering melihat waterwall pada taman, bahkan terkadang pada interior rumah maupun bangunan lainnya. Waterwall merupakan sebuah unsur dekoratif yang memadukan air dengan dinding. Konsep waterwall pada dasarnya ialah mengaliri air dari bagian atas dinding dan membiarkannya jatuh membasahi dinding tersebut, kemudian air dialirkan ke atas dengan pompa untuk kemudian dialirkan ke bawah kembali, begitulah seterusnya. Material dinding untuk waterwall bisa bervariasi, namun kebanyakan orang menggunakan berbagai jenis batu alam, untuk menguatkan kesan natural yang dibuat oleh waterwall tersebut. Waterwall juga terkadang ditambah dengan tanaman sebagai penghias, maupun elemen penghias lainnya seperti lampu, patung, dan lain-lain.
Kini waterwall sangat banyak ditemukan di rumah tinggal, salah satunya di kediaman keluarga Bambang. Rumah yang terletak di Bumi Serpong Damai ini memiliki sebuah taman dengan waterwall yang menjadi fokal point taman tersebut. Waterwall ini diakui merupakan ide dari Bambang sendiri, ia meminta arsitek yang merenovasi rumah mereka untuk membuat sebuah waterwall yang menghiasi taman samping rumah.
Bagian samping rumah ialah berupa dinding yang memisahkan rumah ini dengan rumah tetangga. Agar dinding tidak terlihat kosong, maka dibuatlah sebuah waterwall besar yang menghiasi sebagian besar bagian dinding tersebut. Bagian dinding waterwall menggunakan batu marmer berwarna gelap, senada dengan warna dinding keseluruhan. Air yang dibiarkan mengalir dari atas jatuh ke bagian bawah waterwall dimana terdapat sebuah kolam dengan beberapa ikan koi. Waterwall lengkap dengan kolam ikan ini sekaligus menyalurkan hobi sang anak yang senang memelihara ikan.
Waterwall ini tak hanya membuat taman terlihat lebih menarik. Menurut sang istri, Mariani, kehadiran waterwall membuat susasana rumah terasa lebih sejuk. Suara air yang mengaliri dinding dan gemericik air saat jatuh ke kolam juga membuat siapa saja yang mendengar merasa rileks.




sumber : Tabloidrumah.com
( ADISSA MAHANI )


FOTO: TEDDY YUNANTHA

Sabtu, 16 Maret 2013

Desain Rumah Introvert dari Spanyol



Dengan anggaran mencapai 140.722,36 Euro, sang arsitek berhasil membuat rumah ini sebagai oase di antara lanskap dan lingkungan gersang.

Keindahan alam di sekitar bangunan dapat menambah keindahan bangunan tersebut. Namun, hal itu tidak berlaku sebaliknya.

Memang, lingkungan yang kurang menarik tidak dapat mengubah kejeniusan di balik desain sebuah struktur bangunan. Inilah yang terjadi pada "Rumah Introvert" di Spanyol.

Rumah tersebut merupakan karya arsitek Javier Peña Galiano dari perusahaan arsitektur asal Spanyol XPIRAL. Dengan anggaran mencapai 140.722,36 Euro, sang arsitek berhasil membuat "oase" di antara lanskap dan lingkungan gersang.
Galiano berhasil menciptakan bangunan yang memadukan struktur beton, besi, dan kayu. Perpaduan ini membangun sebuah sekuens melengkung untuk mampu menangkap nuansa lembut cahaya dari arah matahari sepanjang hari.

Setiap material yang digunakan pada bangunan ini seolah mendefinisikan kegunaan ruang tersebut. Sebagai contoh, material yang lebih kuat seperti beton menggunakan massa termal untuk mendinginkan dan menghangatkan ruang keluarga.

Secara natural, ruang tersebut menjadi ruang yang nyaman untuk berkumpul. Selain beton, besi-besi tipis di sini mampu membawa penghuni rumah merasa lebih dekat dengan eksterior rumah tersebut. Sementara itu, balok-balok kayu memberikan kehangatan dan keseimbangan pada unsur-unsur industrial.
Sebuah koridor yang "mencuat" dan "mengambang" dari massa utama rumah ini dibungkus dengan kulit besi berlubang dan bergelombang. Elemen ini membuat udara bisa masuk, namun tetap menjaga privasi dari rumah tersebut. Sinar matahari juga dapat dinikmati secara langsung, dan sebaliknya privasi penghuni rumah tetap terjaga.

Di puncak koridor tersebut, Anda akan menemukan kolam renang dengan tepian beralas kayu. Di tempat ini, penghuni dapat menikmati sinar matahari, segarnya air, dan privasi secara sekaligus bersama-sama. Rasanya, desain rumah ini cocok digunakan untuk lokasi lain yang juga beriklim tropis, seperti Indonesia.



 Sumber: Kompas.com


Kamis, 21 Februari 2013

Olahan Cantik Entrance di Sisi Hunian

oleh: Febrina Syaifullana (@vinna_mooo)
Olahan Cantik Entrance di Sisi Hunian
Salah satu hal yang menarik dari menata ruang adalah Anda bisa berkreasi sebebas mungkin sesuai dengan selera Anda. Seperti ide menarik satu ini.
Menempatkan pintu masuk utama tidak harus terhubung langsung dengan ruang dalam. Anda bisa mengarahkan tamu untuk sedikit berkeliling melihat hunian sebelum akhirnya memasuki ruang dalam. Pintu masuk hunian keluarga Anissa ini terbilang unik karena tidak langsung terhubung ke dalam rumah.
Memasuki pintu utama, kita akan diajak berjalan di sisi rumah dengan bukaan di bagian atas, dinding bata ekspos pada sisi kanan dan deretan pintu kaca di sisi lainnya. Kemudian bisa berjalan di atas pijakan kayu yang cantik dengan saluran drainase di sekelilingnya seolah membuat Anda berjalan diatas jembatan kayu.
Jalur inilah yang akan mengarahkan Anda ke taman belakang rumah. Penempatan pintu kaca pada sisi kiri dinding seolah men-display  interior dalam hunian.
Menarik bukan?

sumber: iDEA Online
Foto : iDEA/Febrina Syaifullana
Lokasi : Hunian Keluarga Anissa, Ciputat

Minggu, 17 Februari 2013

3 Jenis Struktur Atap Carport

oleh: Rasantika M. Seta
Atap carport kantilever. Foto: iDEA/Richard Salampessy
Desain carport terdiri atas bagian lantai, dinding, dan struktur penahan atap, serta rangka penutup atap. Bagaimana struktur atapnya?
Struktur penahan rangka atap carport dapat dikategorikan menjadi tiga tipe:
  1. Struktur yang berdiri sendiri : struktur berdiri sendiri dapat ditopang pada keempat titik utama, atau bisa juga hanya dengan dua titik utama dengan menggunakan sistem kantilever. Kolom-kolom penopang dapat dipilih dari kolom beton, kayu, besi, baja, atau kombinasi di antara material tersebut. Tampilan luar kolom dapat dipilih sesuai dengan konsep desain carport.
  2. Struktur menempel sebagian : carport yang berada sangat dekat dengan bangunan utama akan memiliki keuntungan. Rangka atap dapat dibuat menempel dengan rumah. Cara ini membuat biaya konstruksi carport lebih hemat. Hanya dengan dua titik penopang, carport sudah cukup kokoh. Agar tampilan menarik, konstruksi carport sebaiknya menggunakan sistem dan material yang sejalan dengan konstruksi rumah serta fasad utama.
  3. Struktur gantung : struktur gantung merupakan struktur kantilever dengan sling besi ataupun sling baja. Sistem ini memungkinkan penutup atap menggantung bebas tanpa membutuhkan kolom tambahan. Diperlukan material yang ringan untuk rangka atap dan penutupnya. Struktur semacam ini biasanya menggunakan jenis atap datar.
Foto: iDEA/Richard Salampessy
Sumber: www.ideaonline.co.id/



Memikat Fasad Lewat Batu Alam




Pesona batu alam tak ada habisnya, ia mampu memberi kesan alami sekaligus mempercantik tampilan rumah. Tak heran, jika banyak orang mengaplikasi material ini. Salah satunya di fasad rumah.
Salah satu cara untuk mendapatkan fasad yang cantik dan menarik, yaitu dengan memainkan finishing-nya. Dari sekian banyak finishing yang ada, batu alam adalah material yang dianggap memiliki kemampuan untuk mengubah tampilan fasad rumah menjadi lebih alami. Kehadirannya juga dianggap dapat menetralisir kesan kaku bangunan. Beragam orang memiliki pendapat berbeda mengapa menggunakan finishing batu alam. Ada yang suka karena warna, motif, atau teksturnya. Tetapi, bagaimana caranya biar tampilan batu alam dapat memikat fasad rumah Anda?
Pilihannya Apa Saja?
Hal pertama yang harus Anda perhatikan adalah jangan sembarangan pilih batu alam. Anda harus mengenal karakteristiknya agar sesuai dengan konsepnya. Setidaknya ada 5 jenis material batu alam yang sering dipergunakan untuk dijadikan fasad, yaitu batu candi, paras, lempeng kali, andesit, dan marmer. Ini dia karakteristiknya.
Batu candi mudah menyerap air karena berpori besar, berwarna gelap, dan memiliki tekstur kasar. Batu paras mudah menyerap air karena berpori besar, berwarna terang (kuning, hijau, cokelat, dan putih), dan bertekstur halus. Batu lempeng kali memiliki pori kecil, berwarna gelap, dan keras. Batu Andesit memiliki pori kecil, berwarna gelap, dan keras. Batu marmer memiliki pori kecil, warna terang (abu-abu, krem, broken white), keras, dan paling mahal.
Catatannya, semakin besar pori semakin rentan batu berlumut. Anda wajib meng-coating batu untuk meminimalisir masalah yang timbul. Selain itu, semakin muda warnanya akan semakin mudah terlihat jika kotor.
Dimana Meletakkannya?
Sah-sah saja Anda meletakkan batu alam di manapun. Tetapi perlu diingat, jangan sampai kahadiran batu alam merusak tampilan wajah rumah. “Kalo saya, sih, menyarankan batu alam jadi aksen atau point of interest. Bukan jadi elemen utama yang mendominasi semua fasad,” terang Bambang Soesatyo, ST, Arsitek. “Perbandingan antara dinding batu alam dengan dengan dinding bidang fasad lainnya tidak melebihi 40%,” tambahnya.
Sedangkan untuk perletakannya, Bambang lebih menekankan sifatnya mengelompok dalam satu bidang dan tidak menyebar. “Kalo sudah di area tengah, ya area tengah saja. Misal, di sepanjang dinding dari mulai teras, balkon, hingga plafon atap di atas balkon, menggunakan batu. Sisanya, cukup menggunakan dinding finishing cat saja,” ungkapnya.
Memasangnya? Mudah, kok!
Memasang batu alam tak jauh berbeda dengan memasang keramik. Sebelum dipasang, rendamlah batu alam di dalam air. Lalu, tempelkan plesteran semen ke dinding dan tempelkan batu alam ke plesteran tersebut. Plesteran yang digunakan harus menggunakan semen khusus atau semen instan agar batu alam lebih kuat menempel. Semakin jelek kualitas plesteran dipastikan batu alam akan mudah lepas dari dinding.
Jangan lupa untuk mengetuk-ngetuk batu dengan palu atau pegangan sekop agar menempel sempurna. Lakukan hingga semua bidang terpasang. Setelah pemasangan, sikat permukaan hingga bersih dari cipratan plesteran dan keringkan. Lalu, lapisi dengan cairan coating. Untuk tambah memperkuat keindahan batu alam, lindungi permukaannya dengan anti jamur dan lumut. Dengan pemasangan yang tepat, fasad dari batu alam makin tampil memikat, kan?
(Irfan Hidayat – irfan@tabloidrumah.com)
Ilustrasi: Tan Rahardian dan Irfan Hidayat
Lokasi: Perumahan Tamansari Majapahit Semarang
Pengembang: PT Wika Realty, Tbk

sumber:
Tabloid RUMAH » Memikat Fasad Lewat Batu Alam